Peningkatan Kualitas Air menggunakan Saringan Pasir Bio

Air bersih merupakan rahmat dari Tuhan yang Maha Penyayang. Berkah Tuhan yang sangat berharga itu kini telah dinikmati oleh keluarga-keluarga di Kampung Fanamo & Kampung Omawita. Hal ini dapat terwujud berkat kerjasama Biro Kesehatan LPMAK dengan masyarakat di kedua kampung tersebut yang telah membangun beberapa unit Penampungan Air Hujan (PAH) berbahan ferrocement dan sumur gali (SGL). Namun sayangnya beberapa unit SGL yang telah dibangun tersebut ternyata memiliki kualitas air yang kurang baik (air yang dihasilkan keruh).
Pada bulan April 2009, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII), salah satu mitra Biro Kesehatan LPMAK, melalui program MIMIKA Sehat, telah memperkenalkan sistem penyaringan air untuk pengelolaan air di tingkat rumah tangga. Salah satu model saringan yang diperkenalkan adalah Saringan Pasir Bio (Bio-sand Filter), yang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat binaan LPMAK – YPCII di Fanamo dan Omawita. Bersamaan dengan pembangunan SGL, Biro Kesehatan LPMAK juga menyediakan gorong-gorong beserta asesories untuk pembuatan Saringan Pasir Bio. Namun sayang sekali, hanya satu orang tokoh masyarakat, yakni Bapak Fransiskus Tomatipi, yang memanfaatkan perlengkapan tersebut untuk membuat Saringan Pasir Bio. Sampai sekarang, Saringan pasir Bio tersebut masih terawat dan berfungsi dengan baik.

sumur

Gambar 1. Sumur Gali milik Keluarga Bapak Fransiskus Tomatipi

sand

Gambar 2. Bio-sand filter di sumur milik Keluarga Bapak Fransiskus Tomatipi

hasil

Gambar 3. Air sumur hasil saringan dari Bio-sand filter milik Keluarga Bapak Fransiskus Tomatipi

Semangat pantang menyerah Bapak Fransiskus untuk mendapatkan air bersih patut menjadi teladan bagi anggota masyarakat yang lain. Setidaknya keluarga Pak Fransiskus dan beberapa keluarga di sekitar rumahnya dapat memanfaatkan saringan tersebut untuk mendapatkan air bersih guna keperluannya sehari-hari.
Menurut Dr. David H. Manz, P.Eng., P.Ag., Saringan Pasir Bio dapat mengatasi tiga unsur kualitas air, yaitu fisik (warna, pH, rasa, bau, kekeruhan); kimiawi (kandungan besi, mangan, arsen, fluor, klorida, nitrat, nitrit, sulfat dan logam berat); dan mikrobiologi (bakteri, protozoa, virus, cacing dan organisme lain). Pembentukan bio layer pada Saringan Pasir Bio, membuat air yang dihasilkan aman untuk langsung diminum. Selain itu, berdasarkan hasil penghitungan pada Saringan Pasir Bio yang sudah dibuat (pengukuran dilakukan setelah 9 hari pembuatan), debit air yang dihasilkan cukup menjanjikan, yaitu antara 2,5 – 3 liter per menit atau setara dengan 150 – 180 liter per jam. Dengan demikian, Saringan Pasir Bio menjadi salah satu pilihan tepat untuk memperoleh air bersih yang aman dari sumber air baku yang cukup banyak tersedia (antara lain : air sungai dan air sumur gali) di wilayah kerja LPMAK dan YPCII.

keruh

Gambar 4.a. Kekeruhan air sebelum disaring dengan BSF

bening

Gambar 4.b. Kualitas air setelah disaring dengan BSF

proses

Gambar 4.c. Proses penyaringan air dengan menggunakan BSF

Dengan melihat kualitas air hasil Saringan Pasir Bio milik Bapak Fransiskus yang begitu bagus (kualitas fisiknya) dan beberapa pertimbangan menguntungkan lainya, maka pada periode April 2011, Biro Kesehatan LPMAK dan YPCII berusaha untuk memfasilitasi masyarakat untuk merawat dan memfungsikan secara optimal Saringan Pasir Bio yang telah terbangun. Hingga tulisan ini dibuat telah ada penambahan 4 unit Saringan Pasir Bio yang telah berfungsi dengan baik, yakni , 2 unit di Kampung Omawita dan 2 unit di Kampung Fanamo.

pemuda 1pemuda 2

Gambar 5. Para pemuda dari Kampung Fanamo ikut berpartisipasi dalam pembuatan Bio-sand filter

Sebagai bagian dari pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Biro kesehatan LPMAK dan YPCII telah melatih beberapa anggota masyarakat di kampung Kampung Fanamo dan Omawita untuk membuat kloset, Pelatihan teknologi tepat guna ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas warga masyarakat dalam penyediaan sarana sanitasi dengan harga terjangkau dan meningkatkan rasa kepemilikan masyaraakat vterhyadap sarana sanitasi yang mereka buat sendiri.

elias 1elias 2

Gambar 6.  Bapak Elias Yamuru & Bapak Leowardus Makamu tampak sedang serius membuat cetakan kloset.

klosetkloset2

Gambar 7.  Beragam hasil cetakan kloset leher angsa dan kloset leher angsa buatan warga Kampung Omawita

Manfaat pelatihan ini sangat dirasakan oleh Bapak Elias Yamuru dan Bapak Leowardus Makamu, dua warga Kampung Omawita yang sangat antusias ikut pelatihan membuat kloset leher angsa. “Saya siap menerima pesanan.” kata Pak Elias sambil bergurau saat memoles cetakan kloset buatannya. Dengan kloset buatan sendiri ini, masyarakat bisa mendapatkan kloset dengan biaya yang sangat terjangkau. Berdasarkan pengalaman, satu sak semen dapat menghasilkan sekitar 8 unit kloset. (PWA/Oct11)

Menu Title